Bertahan Menghadapi Tsunami Informasi Dengan Berpikir Secara Ilmiah

Dalam beberapa bulan terakhir, berita tentang wabah covid-19 telah memenuhi semua media informasi. Internet dan sosial media yang kini sudah tersebar luar membuat informasi tersebut membanjiri gadget kita tanpa kita minta. Ibarat tsunami yang datang menghantam tanpa bisa dibendung. Fenomena semacam ini dikenal dengan istilah “tsunami informasi”.

Bagaimana kita bertahan menghadapi tsunami informasi ini? Bagaimana kita bisa memilah mana informasi yang benar dan yang salah? Mana informasi yang perlu kita terima dan abaikan?

Berpikir secara ilmiah dapat membantu kita menjawab pertanyaan tersebut dan bertahan menghadapi tsunami informasi. Berpikir secara ilmiah dapat dilakukan oleh setiap orang tanpa memandang latar belakang pendidikan. Yang diperlukan adalah kemampuan berpikir secara kritis agar dapat menilai tingkat kebenaran suatu informasi.

Bagaimana cara berpikir ilmiah?

Agar dapat berpikir secara ilmiah, kita harus memahami langkah-langkah dalam berpikir ilmiah agar dapat mengukur suatu kebenaran.

Fakta

Fakta adalah hasil dari pengamatan.

Fakta adalah hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan yang benar-benar ada atau terjadi. Fakta tidak dapat dibantah, karena dia benar-benar ada, dapat kita lihat dan rasakan menggunakan panca indra. Berikut adalah contoh fakta yang dapat kita temukan sehari-hari:

  • Kita dapat melihat alam sekitar dengan jelas di siang hari.
  • Kita tidak dapat melihat alam sekitar dengan jelas di malam hari.

Dua hal itu adalah hasil dari pengamatan. Bila semua orang melakukan pengamatan yang sama, maka mereka akan mendapati fakta yang sama pula.

Fakta akan seringkali memunculkan pertanyaan dalam benak kita, misalnya “mengapa kita dapat melihat alam sekitar dengan jelas di siang hari, namun tidak di malam hari?”

Kita, sebagai manusia, akan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mungkin akan ada sebagian orang yang berusaha menjawab pertanyaan tersebut, misalnya dengan mengatakan:

  1. “Mata kita mengeluarkan sinar di siang hari, namun tidak di malam hari.”
  2. “Matahari yang bersinar di siang hari, namun ia hilang di malam hari”

Dalam ilmu pengetahuan (science) kedua pernyataan tersebut dikenal dengan istilah hipotesis.

Hipotesis

Hipotesis adalah gagasan yang diajukan untuk menjelaskan suatu fenomena sebagai langkah awal dalam melakukan penelitian.

Namun, yang perlu diingat, hipotesis adalah sesuatu yang harus diuji.

Nah sekarang cobalah berpikir sejenak, bagaimana cara kita menguji dua contoh hipotesis sebelumnya?

Salah satu cara menguji hipotesis pertama, cobalah anda melihat benda dalam ruang tertutup, tanpa lampu, di siang hari? Bila anda tetap dapat melihat, maka mungkin benar bahwa mata anda mengeluarkan sinar di siang hari.

Cara menguji hipotesis kedua, lakukan hal yang sama di pengujian pertama, namun kali ini cobalah membuka jendela sehingga sinar matahari dapat masuk ke dalam ruangan tersebut. Bila anda dapat melihat isi ruangan setelah jendela dibuka, maka mungkin benar bahwa matahari yang mengeluarkan sinar sehingga kita dapat melihat alam sekitar.

Ada puluhan atau bahkan ratusan cara untuk menguji hipotesis yang kita buat. Semakin banyak hipotesis tersebut lolos pengujian, maka semakin tinggilah keyakinan kita akan kebenaran dari hipotesis tersebut. Sebaliknya, semakin banyak hipotesis tersebut gagal dalam pengujian, maka hipotesis tersebut akan semakin meragukan.

Ketika terdapat banyak hipotesis yang telah lolos pengujian ilmiah, maka semua hipotesis tersebut dalam disatukan ke dalam sebuah teori ilmiah.

Teori Ilmiah

Teori ilmiah merupakan penjelasan yang mendalam dari satu fenomena yang merupakan kesimpulan dari banyak fakta dan hipotesis yang telah diuji menggunakan serangkaian pengujian ilmiah.

Teori ilmiah bukanlah standar kebenaran yang tak dapat dibantah. Seiring dengan meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia, banyak teori ilmiah yang dahulu diterima, namun kini telah dibantah dan digantikan oleh teori ilmiah lainnya.

Geocentric model adalah salah satu contoh teori ilmiah yang sempat bertahan selama ratusan tahun namun akhirnya gagal melalui pengujian ilmiah modern dan kini telah digantikan oleh heliocentric model. Heliocentric model masih bertahan hingga saat ini karena ia masih berhasil melalui serangkaian pengujian ilmiah modern.

Membantah suatu teori ilmiah bukan merupakan sesuatu yang tabu dalam ilmu pengetahuan. Misalnya, sah saja bila Anda tidak setuju dengan teori heliocentric model. Namun Anda harus dapat melakukan serangkaian pengujian ilmiah yang mampu membantah teori tersebut.

Sejarah telah mengajarkan kita bahwa pada akhirnya hanya teori ilmiah yang mampu lolos berbagai macam pengujian yang mampu bertahan dan diterima sebagai penjelasan atas suatu fenomena.

Bertahan Menghadapi Tsunami Informasi

Bagaimana kita bertahan menghadapi tsunami informasi saat ini?

Sederhana saja, kita harus dapat memilah apakah informasi tersebut adalah:

  • fakta?
  • hipotesis?
  • teori ilmiah?

Bila informasi tersebut adalah fakta, maka masih layak kita percaya.

Bila informasi tersebut adalah hipotesis, maka periksalah dahulu. Apakah hipotesis tersebut telah lolos melalui serangkaian pengujian? Bila hipotesis tersebut tidak pernah diuji maka abaikan saja. Bisa jadi itu hanyalah opini yang mungkin tak ada manfaatnya bagi Anda.

Bila informasi tersebut adalah teori ilmiah, maka masih layak untuk kita terima. Namun sekali lagi, teori ilmiah juga bukanlah merupakan satu standar kebenaran, karena masih dapat dibantah bila suatu saat nanti ditemukan fakta dan pengujian baru yang tak dapat dia lampaui.

Bila kita mampu memilah tsunami informasi yang kita terima, maka dapat membuat kita lebih tenang dalam menerima informasi dan terhindar dari rasa panik yang tidak perlu.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Daftar Pustaka

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *